Sri Fersney Hedwinanto
∙29 October 2026

Sekarang, hampir semua orang bisa bikin konten dengan bantuan AI. Tinggal buka ChatGPT, ketik prompt sederhana, lalu script video TikTok atau ide artikel pun muncul dalam hitungan detik. Tapi, kalau semua orang punya akses ke teknologi yang sama, kenapa masih ada konten yang lebih menarik perhatian dibandingkan yang lain?
Jawabannya bukan cuma soal tools yang dipakai, tapi juga cara menggunakannya. Banyak orang memperlakukan AI seperti autopilot: kasih perintah, terima hasilnya, lalu langsung posting. Padahal, hasilnya belum tentu sesuai dengan karakter brand atau kebutuhan audiens. Konten akhirnya terasa generik, kaku, bahkan mirip dengan konten lain.
Coba posisikan AI sebagai co-pilot, bukan pengganti kreativitasmu. AI bisa membantu mencari ide, merapikan script, menganalisis data, sampai mempercepat proses desain. Namun, kamu tetap perlu menentukan arah konten, memahami audiens, dan memastikan hasil akhirnya terasa relevan.
Lalu, bagaimana cara menggunakan AI supaya proses bikin konten lebih efektif tanpa kehilangan sentuhan kreatif? Ini beberapa hal yang bisa kamu coba.
Pernah meminta AI membuat ide video tentang sepatu, tapi hasilnya terasa terlalu umum? Itu bisa terjadi karena instruksinya belum cukup spesifik.
Daripada hanya mengetik, “Bikinin ide konten video tentang sepatu,” coba beri AI peran, target audiens, tujuan konten, dan konteks masalah yang ingin diangkat.
Misalnya:
Bertindaklah sebagai Senior Content Strategist. Buat script video pendek berdurasi 45 detik untuk audiens Gen Z menggunakan framework AIDA (Attention, Interest, Desire, Action). Bahas masalah sepatu yang cepat rusak saat musim hujan. Gunakan bahasa yang natural dan hindari gaya promosi yang terlalu hard selling.
Cara ini dikenal sebagai Role-Based Prompting, yaitu teknik memberikan peran tertentu kepada AI agar jawabannya lebih terarah. Kamu juga bisa menggabungkannya dengan framework marketing seperti AIDA atau PAS (Problem, Agitate, Solution) untuk membantu menyusun alur konten.
Semakin jelas konteks dan batasan yang kamu berikan, semakin mudah kamu mendapatkan output yang sesuai kebutuhan. Kamu tetap perlu mengecek dan mengedit hasilnya, tetapi setidaknya proses brainstorming bisa berjalan lebih cepat.

Buat kamu yang banyak mengerjakan konten visual, AI juga bisa membantu mempercepat proses desain. Fungsinya bukan cuma membuat gambar dari teks, tetapi juga membantu menyelesaikan pekerjaan teknis yang biasanya memakan waktu.
Misalnya, kamu bisa menggunakan Generative Fill untuk menambahkan atau mengganti elemen visual, Text-to-Image untuk mengeksplorasi referensi visual, atau fitur penghapus objek untuk membersihkan bagian foto yang mengganggu.
Perlu mengubah desain dari format landscape untuk YouTube ke format vertikal untuk Reels? Fitur seperti Generative Expand bisa membantu memperluas area gambar agar sesuai dengan rasio baru. Meski begitu, hasilnya tetap perlu diperiksa supaya komposisi, detail, dan identitas visual brand tidak berubah sembarangan.
Dengan bantuan AI, beberapa pekerjaan teknis bisa diselesaikan lebih cepat. Waktu yang tersisa bisa kamu gunakan untuk hal yang lebih penting, seperti mengembangkan ide campaign, menyusun pesan utama, dan memastikan visualnya sesuai dengan tujuan konten.
Dalam video pendek, beberapa detik pertama punya peran besar dalam menarik perhatian audiens. Kalau pembukanya tidak relevan atau terlalu lama sampai ke inti pembahasan, orang bisa saja langsung scroll ke konten berikutnya.
Daripada terus menebak hook mana yang akan menarik perhatian, kamu bisa memanfaatkan AI untuk membantu membaca pola dari data audiens. Misalnya, kumpulkan komentar, pertanyaan yang sering muncul, atau topik yang banyak dibicarakan oleh target audiens. Setelah itu, gunakan AI untuk mengelompokkan masalah yang paling sering muncul dan mengembangkan beberapa alternatif hook.
Kamu bisa meminta AI membuat 10 pilihan pembuka dengan pendekatan berbeda, mulai dari pertanyaan yang relatable, masalah sehari-hari, fakta yang mengejutkan, sampai pernyataan yang memancing rasa penasaran.
Namun, jangan langsung menganggap semua rekomendasi AI pasti berhasil. Gunakan hasilnya sebagai bahan eksperimen, lalu bandingkan performanya melalui metrik seperti retention, watch time, dan engagement. Dari situ, kamu bisa melihat pendekatan mana yang paling cocok untuk audiensmu.
AI memang bisa membantu menghasilkan ide, merangkum informasi, dan mempercepat proses produksi. Namun, hasil yang menarik tetap membutuhkan pemahaman tentang manusia, konteks, dan tujuan komunikasi.
AI bisa menyarankan banyak konsep, tetapi kamu yang perlu menilai apakah idenya sesuai dengan karakter brand, apakah pesannya sensitif terhadap konteks tertentu, dan apakah kontennya benar-benar menjawab kebutuhan audiens.
Jadi, tantangan kreator saat ini bukan sekadar siapa yang paling cepat menghasilkan konten. Yang lebih penting adalah siapa yang bisa memanfaatkan AI dengan tepat, tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kreativitasnya sendiri.
Kalau kamu ingin belajar menyusun strategi konten, membaca performa media sosial, dan memanfaatkan AI untuk kebutuhan bisnis, pelajari program Job Connector Social Media & Content Creation dari Purwadhika.
Tidak selalu. Konten tetap bisa terasa original selama AI digunakan untuk membantu brainstorming, menyusun struktur, atau mengolah informasi, bukan sekadar menyalin hasilnya mentah-mentah. Ide, sudut pandang brand, pengalaman, dan keputusan kreatifmu tetap punya peran penting dalam membentuk hasil akhir.
Role-Based Prompting adalah teknik memberikan peran tertentu kepada AI sebelum meminta bantuan. Contohnya, meminta AI bertindak sebagai SEO Specialist, Senior Copywriter, atau Video Director. Dengan konteks yang lebih jelas, jawaban yang dihasilkan bisa lebih sesuai dengan kebutuhanmu.
Pilihan tools bergantung pada jenis konten yang kamu buat. ChatGPT atau Claude bisa membantu brainstorming, menyusun script, dan mengembangkan copywriting. Sementara itu, tools desain dan editing yang memiliki fitur Generative AI bisa membantu mengolah gambar atau mempercepat pekerjaan visual. Yang penting, pilih tools berdasarkan kebutuhan kerja, bukan sekadar karena sedang populer.
AI tidak bisa menjamin sebuah konten akan viral. Namun, AI bisa membantu menganalisis data yang tersedia, seperti tren, kata kunci, komentar, dan performa konten sebelumnya. Hasil analisis tersebut bisa menjadi bahan untuk menguji format atau topik yang berpotensi menarik perhatian audiens.
cara-pro-menggunakan-ai-untuk-bikin-konten-video-dan-visualbagikan
ARTIKEL TERKAIT