Sri Fersney Hedwinanto
∙28 October 2026
Social Media Strategist tetap dibutuhkan di era AI karena pekerjaannya bukan cuma bikin konten, tetapi juga menentukan konten apa yang perlu dibuat, siapa yang ingin dijangkau, dan tujuan apa yang ingin dicapai. AI memang bisa membantu bikin caption, mencari ide, sampai menyusun content calendar. Tapi, konten yang banyak belum tentu efektif kalau nggak punya arah yang jelas.
Sekarang, AI bisa membantu bikin caption, mencari ide konten, membuat gambar, bahkan menyusun draft content calendar dalam waktu singkat. Wajar kalau muncul pertanyaan, "Kalau semua itu bisa dikerjakan AI, perusahaan masih butuh Social Media Strategist nggak?"
Jadi, yang menarik untuk dibahas bukan cuma apakah AI bisa membuat konten, tetapi juga skill apa yang dibutuhkan supaya konten tersebut benar-benar punya tujuan.
AI yang makin jago bikin konten bukan berarti semua pekerjaan di bidang media sosial bakal hilang.
Dalam Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF), Social Media Strategist dan Digital Marketing and Strategy Specialists tercantum dalam proyeksi pertumbuhan pekerjaan global untuk periode 2025–2030. Temuan ini berdasarkan survei pemberi kerja di berbagai industri dan negara, jadi bukan jaminan bahwa permintaan untuk posisi tersebut akan selalu naik di setiap pasar.
Lalu, kenapa peran strategist masih relevan?
Bayangkan sebuah brand menggunakan AI untuk membuat 30 ide konten dalam sehari. Apakah semuanya perlu dipublikasikan? Belum tentu.
Tim tetap perlu menentukan ide mana yang cocok dengan audiens, mana yang sesuai dengan karakter brand, dan mana yang bisa mendukung tujuan bisnis. Setelah konten dipublikasikan, performanya juga perlu dievaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.
AI bisa membantu proses tersebut, tetapi tetap perlu ada orang yang memahami konteks dan mengambil keputusan.
Di sinilah peran Social Media Strategist jadi penting. Bukan sekadar membuat lebih banyak konten, tetapi memastikan setiap konten punya alasan dan tujuan yang jelas.
Sekilas, pekerjaan di bidang media sosial memang terlihat seperti bikin caption, desain, atau video, lalu mengunggahnya ke platform yang sesuai.
Padahal, produksi konten cuma salah satu bagian dari prosesnya.
Seorang Social Media Strategist perlu melihat gambaran yang lebih besar. Siapa audiens yang ingin dijangkau? Apa yang ingin dicapai brand? Konten seperti apa yang relevan? Bagaimana performanya akan diukur?
Misalnya, sebuah brand ingin meningkatkan jumlah pendaftaran ke program digital marketing.
Strateginya nggak cukup hanya dengan membuat Reels yang menarik. Tim juga perlu memahami siapa target audiensnya, apa yang membuat mereka tertarik belajar digital marketing, pertanyaan apa yang biasanya muncul sebelum mendaftar, dan konten apa yang bisa membantu mereka mempertimbangkan program tersebut.
Dari situ, tim bisa menyusun beberapa jenis konten sesuai kebutuhan. Ada konten edukasi untuk memperkenalkan bidang digital marketing, konten tentang pengalaman belajar untuk memberikan gambaran program, dan konten yang mengarahkan audiens ke informasi pendaftaran.
Setelah dipublikasikan, performanya perlu dilihat lagi. Apakah konten berhasil menjangkau audiens yang tepat? Apakah banyak yang menyimpan atau membagikannya? Apakah ada yang mengunjungi halaman program?
Semua itu butuh perencanaan, analisis, dan evaluasi. Jadi, pekerjaan Social Media Strategist jauh lebih luas daripada sekadar memastikan akun brand tetap aktif.
Kalau sebagian pekerjaan produksi konten sudah bisa dibantu AI, kamu perlu mengembangkan kemampuan yang bisa membantu mengubah hasil tersebut menjadi keputusan dan strategi yang lebih baik.
Ada beberapa skill yang bisa mulai kamu fokuskan.
Tren media sosial datang dan pergi dengan cepat. Tapi, nggak semua tren cocok untuk semua brand.
Seorang strategist perlu memahami siapa audiensnya, apa yang mereka butuhkan, masalah apa yang sedang dihadapi, dan jenis konten apa yang relevan buat mereka.
AI bisa membantu mencari ide atau merangkum informasi tentang audiens. Namun, hasilnya tetap perlu diperiksa dan disesuaikan dengan data serta konteks yang dimiliki brand.
Misalnya, sebuah tren sedang ramai di TikTok. Sebelum ikut bikin konten serupa, coba tanyakan beberapa hal. Apakah tren tersebut relevan dengan target audiens? Apakah cocok dengan karakter brand? Apakah ada tujuan yang ingin dicapai?
Mengikuti tren bisa menjadi salah satu taktik. Tapi, strategi media sosial nggak seharusnya cuma bergantung pada tren yang sedang ramai.
Jumlah views yang tinggi memang menyenangkan untuk dilihat. Tapi, apakah itu berarti kontennya berhasil?
Jawabannya tergantung pada tujuan konten tersebut.
Kalau tujuannya meningkatkan awareness, reach dan views bisa menjadi metrik yang relevan. Kalau tujuannya membangun interaksi, kamu perlu melihat engagement. Sementara itu, jika kampanye ditujukan untuk mendapatkan leads atau pendaftaran, klik dan konversi menjadi lebih penting untuk diperhatikan.
Social Media Strategist perlu memahami hubungan antara tujuan, konten, dan metrik yang digunakan.
AI bisa membantu merangkum data atau menemukan pola awal. Namun, strategist tetap perlu memeriksa apakah pola tersebut memang bermakna dan menentukan apa yang perlu dilakukan setelahnya.
Dengan kata lain, kemampuan membaca data bukan cuma soal memahami angka, tetapi juga menerjemahkannya menjadi keputusan yang masuk akal.
Ketika makin banyak orang bisa membuat konten dengan bantuan AI, jumlah konten yang beredar juga bisa semakin banyak.
Tantangannya bukan sekadar membuat konten yang bagus secara visual, tetapi memastikan audiens punya alasan untuk memperhatikan brand kamu.
Di sinilah Brand Point of View (POV) dan konsistensi komunikasi jadi penting.
Brand perlu punya sudut pandang, karakter, dan pesan yang jelas. Hal ini membantu konten terasa konsisten, meskipun format dan platform yang digunakan berubah.
AI bisa membantu menghasilkan alternatif caption atau ide kampanye. Tapi, strategist tetap perlu memilih mana yang benar-benar mencerminkan brand dan sesuai dengan kebutuhan audiens.
Tujuannya bukan membuat semua konten terdengar sempurna. Justru, konten dengan sudut pandang yang jelas akan lebih mudah dibedakan dari konten generik yang cuma mengulang informasi serupa.
Content pillar, content calendar, dan content mix bukan sekadar dokumen untuk merapikan jadwal posting.
Ketiganya membantu tim menentukan konten apa yang perlu dibuat, kapan dipublikasikan, dan bagaimana konten tersebut mendukung tujuan brand.
Misalnya, jika tujuan kampanye adalah meningkatkan pendaftaran, tim perlu memikirkan bagaimana konten bisa membantu audiens dari tahap mengenal program sampai mempertimbangkan untuk mendaftar.
AI bisa membantu menyusun kalender konten atau memberikan variasi ide. Tapi, strategi tetap perlu mempertimbangkan customer journey, kapasitas produksi, kebutuhan kampanye, dan prioritas bisnis.
Tanpa arah yang jelas, kalender konten bisa saja penuh, tetapi belum tentu efektif.

AI nggak harus dianggap sebagai pesaing yang perlu dihindari. Kalau digunakan dengan tepat, AI justru bisa membantu mengurangi pekerjaan berulang dan memberi lebih banyak waktu buat memikirkan strategi.
Contohnya, AI bisa digunakan untuk membantu:
Tapi, hasilnya tetap perlu dievaluasi.
Caption buatan AI mungkin terdengar menarik, tetapi belum tentu sesuai dengan tone of voice brand. Kalender konten yang terlihat rapi juga belum tentu menjawab kebutuhan audiens. Sementara itu, ringkasan data bisa melewatkan konteks yang justru penting bagi bisnis.
Jadi, jangan cuma belajar cara menggunakan AI. Pelajari juga cara menilai output-nya dan memperbaikinya ketika belum sesuai.
AI bisa membantu mempercepat eksekusi. Skill strategis membantu menentukan apakah eksekusi tersebut memang perlu dilakukan.
Perubahan algoritma memang menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan media sosial. Namun, bukan berarti seorang strategist harus terus mengejar setiap perubahan atau tren yang muncul.
Yang lebih penting adalah memahami cara kerja platform, memantau perkembangan yang relevan, lalu menguji pendekatan yang sesuai dengan audiens dan tujuan konten.
Misalnya, ketika performa Reels menurun, jangan langsung menganggap algoritma sebagai satu-satunya penyebab. Coba periksa juga apakah hook-nya cukup menarik, topiknya relevan, durasi videonya sesuai, atau pesan utamanya mudah dipahami.
Lakukan eksperimen dengan tujuan yang jelas. Ubah elemen yang memang ingin diuji, lalu bandingkan hasilnya.
Dengan pendekatan seperti ini, strategist nggak sekadar bereaksi terhadap perubahan platform. Mereka menggunakan data dan pemahaman audiens untuk menentukan penyesuaian yang masuk akal.
Kalau kamu tertarik masuk ke bidang ini, kamu nggak harus langsung menguasai semua tools atau punya pengalaman mengelola akun brand besar.
Mulailah dengan memahami fondasi digital marketing dan bagaimana media sosial mendukung tujuan bisnis.
Berikut beberapa langkah yang bisa kamu coba.
Pahami target audiens, content pillar, content calendar, tone of voice, serta cara menghubungkan konten dengan tujuan marketing.
Jangan cuma belajar bikin konten yang menarik. Coba pahami juga alasan di balik setiap keputusan yang kamu ambil.
Biasakan diri memahami metrik seperti reach, engagement, watch time, klik, dan konversi.
Pelajari juga kapan sebuah metrik relevan digunakan untuk mengukur keberhasilan. Views tinggi belum tentu menjadi indikator keberhasilan kalau tujuan kampanyenya adalah mendapatkan pendaftaran.
Pilih satu brand sebagai studi kasus. Tentukan target audiens, susun content strategy, buat contoh konten, lalu jelaskan bagaimana kamu akan mengukur performanya.
Kamu bisa menggunakan proyek ini untuk melatih cara berpikir strategis sekaligus membangun portofolio.
Coba gunakan AI untuk mengembangkan ide atau membuat draft awal. Setelah itu, jelaskan bagaimana kamu mengevaluasi dan menyesuaikan hasilnya dengan kebutuhan brand.
Dengan begitu, kamu nggak cuma menunjukkan bahwa kamu bisa menggunakan AI, tetapi juga memahami cara menghasilkan konten yang punya tujuan jelas.
Kalau kamu ingin belajar dengan jalur yang lebih terstruktur, kamu bisa mengeksplorasi Job Connector Digital Marketing Purwadhika. Pelajari kurikulum, proyek praktik, metode belajar, serta dukungan karir yang tersedia untuk menilai apakah programnya sesuai dengan tujuanmu.
Mengikuti program belajar bukan jaminan otomatis mendapatkan pekerjaan. Namun, proses belajar yang terarah dan latihan melalui proyek bisa membantu kamu membangun fondasi skill serta portofolio yang relevan.
AI memang mengubah cara tim media sosial bekerja. Sebagian tugas yang sebelumnya memerlukan waktu cukup lama kini bisa dibantu teknologi.
Namun, peran Social Media Strategist nggak berhenti pada produksi konten. Mereka perlu memahami audiens, menetapkan tujuan, membaca data, menjaga konsistensi brand, dan menghubungkan aktivitas media sosial dengan kebutuhan bisnis.
Laporan WEF 2025 juga memasukkan Social Media Strategist dan Digital Marketing and Strategy Specialists dalam proyeksi pertumbuhan pekerjaan global hingga 2030. Meski begitu, proyeksi ini bukan jaminan bahwa setiap posisi akan tumbuh atau bahwa profesi tersebut kebal terhadap otomatisasi.
Karena itu, kalau kamu ingin membangun karir di bidang media sosial, jangan cuma berfokus pada kemampuan membuat konten atau menguasai tools terbaru.
Belajar memahami alasan di balik setiap keputusan. Kenali audiens, pahami data, dan latih kemampuan menyusun strategi yang hasilnya bisa dievaluasi.
Karena yang dibutuhkan bukan sekadar orang yang bisa membuat konten lebih cepat, tetapi orang yang tahu konten apa yang perlu dibuat, untuk siapa, dan untuk tujuan apa.
AI dapat membantu beberapa tugas, seperti membuat draft caption, mengembangkan ide, atau merangkum data. Namun, pekerjaan ini juga mencakup perencanaan, pemahaman audiens, evaluasi performa, dan penyelarasan konten dengan tujuan bisnis. Dampaknya akan berbeda tergantung pada perusahaan dan tanggung jawab setiap posisi.
Ya. Dalam Future of Jobs Report 2025, WEF menampilkan Social Media Strategist dan Digital Marketing and Strategy Specialists dalam proyeksi pekerjaan dengan net growth untuk periode 2025–2030. Namun, ini merupakan proyeksi global berdasarkan ekspektasi pemberi kerja, bukan jaminan pertumbuhan di setiap negara atau industri.
Beberapa skill yang relevan mencakup strategi konten, riset audiens, analytical thinking, pemahaman customer journey, evaluasi performa, komunikasi brand, dan kemampuan menggunakan AI secara kritis. Kebutuhannya bisa berbeda tergantung tanggung jawab posisi dan industri.
Bisa. Kamu dapat mulai dengan mempelajari dasar digital marketing, membangun proyek latihan, menyusun strategi konten untuk studi kasus, serta belajar menganalisis hasilnya. Portofolio yang menunjukkan proses berpikir dan alasan di balik keputusanmu bisa membantu memperlihatkan kemampuan tersebut.
Nggak semua pekerjaan mewajibkan tools AI tertentu. Namun, memahami cara menggunakan dan mengevaluasi AI bisa menjadi nilai tambah, terutama untuk membantu proses riset, brainstorming, produksi draft, dan analisis awal.
bagikan
ARTIKEL TERKAIT