Sri Fersney Hedwinanto
∙29 October 2026

Video marketing bisa membantu bisnis meningkatkan penjualan, tetapi kuncinya bukan sekadar membuat video yang ramai ditonton. Kamu perlu memilih format yang sesuai, memahami audiens, menyampaikan manfaat produk dengan jelas, dan mengukur hasilnya. Dalam State of Marketing Report 2026 dari HubSpot, 48,6% marketer yang disurvei menilai video pendek sebagai format konten dengan ROI tertinggi. Temuan ini menunjukkan potensi video pendek dalam strategi marketing, meskipun hasil setiap bisnis tetap bergantung pada audiens, biaya, dan tujuan kampanyenya.
Jadi, kalau targetmu bukan cuma menambah views, tetapi juga menarik calon pelanggan dan mendorong pembelian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menyusun strategi video marketing.
Coba perhatikan kebiasaanmu saat membuka TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts. Dalam beberapa menit saja, kamu bisa menemukan puluhan video dengan topik yang berbeda-beda.
Situasi ini membuat video pendek menjadi format yang menarik untuk menyampaikan pesan dengan cepat. Brand bisa menggunakannya untuk membagikan tips, menunjukkan cara kerja produk, menjawab pertanyaan pelanggan, atau memperkenalkan layanan kepada audiens baru.
Data dari HubSpot menunjukkan bahwa 60% marketer yang disurvei menggunakan video pendek dalam strategi konten mereka pada 2026. Selain itu, format ini menempati posisi teratas dalam daftar format konten dengan ROI tertinggi menurut responden.
Tapi, jangan langsung menyimpulkan bahwa semua bisnis harus fokus membuat video pendek.
Video dengan banyak views belum tentu menghasilkan penjualan. Bisa saja orang menontonnya karena lucu atau relatable, tetapi tidak tertarik untuk membeli produk yang ditawarkan.
Karena itu, video pendek sebaiknya dibuat dengan tujuan yang jelas. Apakah kamu ingin memperkenalkan brand, menjelaskan manfaat produk, mendatangkan traffic ke website, atau mendorong orang melakukan pembelian?
Tujuan tersebut akan menentukan isi video, CTA, dan metrik yang perlu kamu perhatikan.
Video pendek yang efektif nggak harus selalu mengikuti tren atau menggunakan konsep yang rumit. Yang lebih penting adalah bagaimana kamu menyampaikan pesan yang relevan dalam waktu singkat.
Ada beberapa pendekatan yang bisa dicoba.
Di media sosial, orang bisa melewati videomu dalam hitungan detik. Karena itu, bagian awal perlu memberi alasan yang jelas kenapa mereka perlu menonton lebih lanjut.
Salah satu caranya adalah mengangkat masalah yang memang sering dialami target audiens.
Misalnya, brand skincare bisa membahas kesalahan dalam rutinitas perawatan kulit. Bisnis software bisa menunjukkan proses kerja yang biasanya memakan waktu lama. Sementara itu, brand pendidikan bisa mengangkat kesulitan yang sering dialami orang saat mempelajari skill baru.
Setelah menarik perhatian, langsung hubungkan masalah tersebut dengan informasi atau solusi yang ingin kamu sampaikan.
Hindari hook yang heboh tetapi isi videonya tidak sesuai dengan ekspektasi penonton. Perhatian yang berhasil didapatkan belum tentu berguna kalau pesan utamanya justru tidak relevan.
Pelanggan biasanya ingin tahu bagaimana sebuah produk bisa membantu mereka, bukan sekadar seberapa banyak fitur yang dimiliki.
Bayangkan kamu memasarkan aplikasi keuangan untuk pemilik bisnis kecil.
Alih-alih hanya menyebut fitur laporan transaksi dan dashboard interaktif, kamu bisa memperlihatkan bagaimana aplikasi tersebut membantu pengguna memantau pengeluaran dan memahami kondisi keuangan bisnisnya.
Pendekatan yang sama bisa diterapkan untuk produk lain. Tampilkan cara penggunaan, situasi yang bisa dibantu, atau manfaat yang realistis untuk dirasakan pelanggan.
Dengan begitu, audiens punya gambaran yang lebih jelas tentang alasan produk tersebut layak dipertimbangkan.
Video promosi nggak harus selalu terasa seperti iklan. Kamu bisa menyampaikan pesan melalui cerita yang dekat dengan kehidupan target audiens.
Misalnya, mulai dengan masalah yang sering terjadi, tunjukkan bagaimana masalah tersebut memengaruhi aktivitas sehari-hari, lalu perlihatkan cara produk membantu mengatasinya.
Struktur sederhana seperti ini membantu audiens memahami konteks produk tanpa harus menerima banyak informasi sekaligus.
Pastikan ceritanya tetap relevan dan tidak menjanjikan hasil yang belum tentu bisa diberikan produk. Storytelling yang baik bukan sekadar membuat video terasa menarik, tetapi juga membantu audiens memahami pesan yang ingin disampaikan.
Bekerja sama dengan influencer bisa menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan produk kepada audiens yang lebih spesifik. Tapi, kamu nggak harus selalu bekerja sama dengan kreator yang punya jutaan followers.
Micro-influencer sering menarik bagi brand karena mereka bisa memiliki komunitas yang fokus pada minat atau topik tertentu. Misalnya, kreator yang membahas skincare untuk kulit sensitif, perlengkapan lari, kopi, atau produktivitas kerja.
Kalau audiens kreator tersebut sesuai dengan target pasar brand, kontennya berpotensi membantu produk menjangkau orang yang lebih relevan.
Namun, jumlah followers saja nggak cukup untuk menentukan kreator yang tepat. Kamu juga perlu melihat kualitas interaksi, kesesuaian audiens, gaya penyampaian, dan pengalaman kreator dalam membahas produk sejenis.
Sebelum memulai kerja sama, ada beberapa hal yang perlu diperiksa:
Jangan berasumsi bahwa setiap video dari micro-influencer pasti menghasilkan konversi lebih tinggi. Hasilnya tetap bergantung pada kualitas konten, penawaran, harga, kebutuhan audiens, dan cara kampanye dijalankan.
Untuk menilai hasilnya, brand bisa melacak klik, penggunaan kode promo, leads, atau pembelian yang dapat dikaitkan dengan kampanye tersebut.

Pernah melihat iklan yang sepanjang video hanya membicarakan keunggulan produk, teknologi yang digunakan, atau pencapaian perusahaan?
Informasi tersebut bisa berguna, tetapi belum tentu langsung menjawab pertanyaan calon pelanggan: “Apa manfaatnya buat gue?”
Di sinilah StoryBrand framework dari Donald Miller bisa menjadi salah satu pendekatan yang menarik untuk dicoba.
Dalam pendekatan ini, pelanggan diposisikan sebagai tokoh utama, sementara brand berperan sebagai pemandu yang membantu mereka mengatasi masalah.
Artinya, video marketing sebaiknya nggak hanya berfokus pada betapa hebatnya produkmu. Tunjukkan juga masalah yang dihadapi pelanggan dan bagaimana produk tersebut bisa membantu.
Contohnya, jika kamu memasarkan aplikasi manajemen proyek, kamu bisa membuat video tentang repotnya mengatur pekerjaan tim ketika semua tugas dicatat di tempat berbeda.
Setelah menunjukkan masalah tersebut, perlihatkan bagaimana aplikasi membantu tim menyusun tugas, memantau progres, dan mengetahui deadline dalam satu tempat.
Di akhir video, berikan CTA yang sesuai, misalnya mengajak audiens mencoba demo atau melihat informasi produk lebih lanjut.
Dengan cara ini, video punya alur yang lebih jelas. Audiens memahami masalahnya, melihat solusi yang ditawarkan, dan tahu langkah selanjutnya yang bisa dilakukan.
Tentu, penggunaan StoryBrand tidak menjamin penjualan akan meningkat secara otomatis. Efektivitasnya tetap perlu diuji melalui performa konten dan respons audiens.
Views tinggi memang bisa menjadi sinyal bahwa video berhasil menarik perhatian. Tapi, kalau tujuan kampanyenya adalah meningkatkan penjualan, kamu perlu melihat lebih jauh daripada jumlah penonton.
Langkah pertama adalah menentukan tujuan kampanye. Setiap tujuan membutuhkan metrik yang berbeda.
| Tujuan kampanye | Metrik yang bisa diperhatikan |
|---|---|
| Meningkatkan brand awareness | Reach, views, dan watch time |
| Membangun ketertarikan | Saves, shares, kunjungan profil, dan klik |
| Mendapatkan leads | Jumlah leads, biaya per lead, dan kualitas leads |
| Meningkatkan penjualan | Jumlah pembelian, nilai transaksi, dan biaya akuisisi pelanggan |
Setelah menentukan metrik, bandingkan hasilnya dengan biaya yang dikeluarkan. Biaya tersebut bisa mencakup produksi video, pembayaran kreator, distribusi iklan, dan kebutuhan lain yang terkait dengan kampanye.
Untuk menghitung ROI, kamu bisa menggunakan rumus berikut:
ROI (%) = (Keuntungan yang dapat dikaitkan dengan kampanye − Biaya kampanye) ÷ Biaya kampanye × 100%
Misalnya, sebuah kampanye menghasilkan keuntungan yang dapat diatribusikan sebesar Rp15 juta dengan total biaya Rp10 juta. ROI-nya adalah 50%.
Dalam praktiknya, kamu perlu menentukan bagaimana keuntungan tersebut dihitung dan memastikan hasilnya bisa dikaitkan dengan kampanye yang dijalankan. Jangan langsung menyamakan total omzet dengan keuntungan.
Kalau hasilnya belum sesuai harapan, gunakan data untuk mencari tahu bagian yang perlu diperbaiki. Mungkin videonya berhasil menarik perhatian tetapi CTA kurang jelas, atau banyak orang mengunjungi website tetapi tidak menyelesaikan pembelian.
Evaluasi seperti ini membantu kamu menentukan langkah berikutnya berdasarkan data, bukan sekadar menebak konten apa yang akan viral.
Video marketing yang efektif bukan selalu video yang paling ramai ditonton. Yang lebih penting adalah apakah konten tersebut sesuai dengan audiens, menyampaikan pesan yang relevan, dan membantu mencapai tujuan bisnis.
Mulailah dengan memahami target audiens, lalu pilih format video yang sesuai. Gunakan pembuka yang menarik, tunjukkan manfaat produk, dan susun cerita yang mudah diikuti.
Kalau ingin bekerja sama dengan kreator, periksa kesesuaian audiens dan tentukan cara mengukur hasilnya. Setelah video dipublikasikan, evaluasi performanya berdasarkan tujuan kampanye, termasuk leads, pembelian, biaya, dan keuntungan yang bisa dikaitkan dengan aktivitas tersebut.
Kalau kamu ingin mempelajari cara menyusun strategi konten, mengelola kampanye, dan mengevaluasi hasil pemasaran secara lebih terstruktur, kamu bisa mengeksplorasi program Job Connector Digital Marketing Purwadhika. Pelajari kurikulum, proyek praktik, serta metode belajarnya untuk melihat apakah program tersebut sesuai dengan kebutuhanmu.
Pada akhirnya, video yang efektif bukan cuma membuat orang berhenti scrolling. Video tersebut juga membantu audiens memahami manfaat produk dan memberi mereka alasan untuk mengambil langkah berikutnya.
Video marketing adalah penggunaan video untuk mendukung aktivitas pemasaran, seperti memperkenalkan brand, menjelaskan produk, membangun ketertarikan audiens, mendapatkan leads, atau mendorong penjualan.
Nggak ada satu durasi yang selalu ideal untuk semua video. Durasi perlu disesuaikan dengan pesan, platform, dan tingkat kerumitan topik. Yang penting, sampaikan inti pesan tanpa bagian yang tidak diperlukan dan beri alasan kepada audiens untuk terus menonton.
Nggak harus. Smartphone bisa menjadi titik awal untuk membuat video promosi. Pastikan pencahayaan, suara, dan gambar cukup jelas, lalu sesuaikan proses produksi dengan kebutuhan konten.
Micro-influencer bisa membantu brand menjangkau komunitas yang lebih spesifik. Namun, hasilnya bergantung pada kesesuaian audiens, kualitas konten, penawaran, dan cara kampanye dijalankan. Karena itu, tentukan metrik seperti klik, leads, dan pembelian untuk mengevaluasi hasilnya.
Tentukan tujuan kampanye terlebih dahulu. Gunakan reach dan views untuk mengukur jangkauan, engagement untuk melihat interaksi, serta leads, pembelian, biaya, dan keuntungan untuk mengevaluasi dampak bisnis. Metrik yang dipilih perlu sesuai dengan hasil yang ingin dicapai.
bagikan
ARTIKEL TERKAIT