Sri Fersney Hedwinanto
∙28 October 2026
Immersive reality di 2026 nggak cuma soal headset VR atau pengalaman main game. Teknologi ini mulai hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan keseharian, seperti smart glasses yang menggabungkan AI dengan lingkungan nyata. Dalam Technology Trends Outlook 2026, McKinsey mencatat investasi ekuitas di bidang immersive reality mencapai sekitar US$6,4 miliar pada 2025.
Perkembangan ini membuka peluang baru buat bisnis untuk berinteraksi dengan pelanggan, menyampaikan informasi, dan menciptakan pengalaman yang lebih relevan. Tapi, teknologi ini masih berkembang, jadi belum tentu cocok untuk semua kebutuhan bisnis.
Lalu, apa yang sebenarnya berubah dari immersive reality, dan bagaimana brand bisa memanfaatkannya?
Kalau dengar immersive reality, mungkin yang langsung terbayang adalah headset besar yang bikin penggunanya seolah masuk ke dunia virtual. Teknologi seperti itu memang masih jadi bagian dari immersive reality, tapi perkembangannya nggak berhenti di sana.
Sekarang, perhatian juga mulai tertuju pada perangkat yang menghubungkan dunia digital dengan lingkungan fisik, termasuk smart glasses berbasis AI.
Menurut Technology Trends Outlook 2026 dari McKinsey, teknologi immersive reality mencakup augmented reality (AR), virtual reality (VR), mixed reality (MR), haptics, dan smart glasses berbasis AI. Perkembangannya mulai bergerak melampaui pengalaman yang bergantung pada headset, menuju perangkat wearable yang bisa membantu pengguna melihat, mendengar, dan berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.
Artinya, pengalaman digital nggak harus selalu mengharuskan kita masuk ke dunia virtual. Teknologi juga bisa hadir di tengah aktivitas sehari-hari.
Bayangkan kamu sedang jalan-jalan di kota yang belum pernah dikunjungi. Kamu ingin mencari arah, memahami papan informasi dalam bahasa asing, atau mengenali tempat di sekitar. Perangkat berbasis AI bisa membantu memberikan informasi sesuai kebutuhan tersebut, tergantung fitur dan kemampuan perangkatnya.
Inilah salah satu perkembangan immersive reality yang menarik untuk diperhatikan. Teknologi bukan cuma menampilkan sesuatu di depan mata, tetapi juga berusaha membantu pengguna memahami konteks di sekelilingnya.
Salah satu hal yang bikin smart glasses menarik adalah bentuknya. Perangkat ini lebih dekat dengan benda yang sudah biasa kita pakai sehari-hari, yaitu kacamata.
Bandingkan dengan headset seperti Apple Vision Pro, yang bobotnya sekitar 750–800 gram, tergantung konfigurasi. Smart glasses dirancang lebih ringkas dan menyerupai kacamata biasa, meskipun bobot dan fiturnya berbeda-beda di setiap produk.
Perbedaan bentuk ini juga memengaruhi cara perangkat digunakan. Headset bisa menawarkan pengalaman visual yang imersif, sementara smart glasses lebih dekat dengan aktivitas seperti mengambil foto, mendengarkan audio, menggunakan bantuan AI, atau memperoleh informasi sambil beraktivitas.
Tapi, ada satu hal yang perlu dipahami. Nggak semua smart glasses punya layar atau bisa menampilkan objek digital di depan mata. Sebagian perangkat lebih berfokus pada kamera, audio, dan asisten AI. Untuk pengalaman AR yang menampilkan elemen digital di lingkungan nyata, perangkat perlu memiliki fitur display dan software yang mendukungnya.
Meski begitu, perkembangan pasar smart glasses tetap menarik untuk diperhatikan.
Menurut IDC, pengiriman smart glasses tanpa layar meningkat 167% secara tahunan pada kuartal pertama 2026, mencapai sekitar 2,25 juta unit. IDC juga memperkirakan pengiriman kategori ini mencapai 13,6 juta unit sepanjang 2026 dan berpotensi meningkat menjadi 27,3 juta unit pada 2030.
Angka tersebut bukan berarti headset akan langsung ditinggalkan. Keduanya punya fungsi yang berbeda. Namun, pertumbuhan smart glasses menunjukkan bahwa pengalaman digital makin banyak dieksplorasi lewat perangkat yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ketiga istilah ini sering muncul saat membahas immersive reality. Sekilas terdengar mirip, padahal cara kerjanya berbeda.
AR menambahkan elemen digital ke lingkungan nyata yang sedang dilihat pengguna.
Contohnya, mencoba makeup secara virtual melalui kamera smartphone atau melihat panduan visual di atas objek fisik menggunakan perangkat AR yang mendukungnya.
VR membawa pengguna ke lingkungan virtual yang menggantikan pandangan terhadap dunia nyata.
Teknologi ini banyak digunakan untuk game, simulasi, pelatihan, dan pengalaman virtual.
MR menggabungkan objek digital dengan lingkungan fisik sehingga keduanya bisa berinteraksi dalam pengalaman yang sama.
Misalnya, model 3D virtual yang ditempatkan di sebuah ruangan, lalu dilihat atau dimanipulasi menggunakan perangkat yang mendukung MR.
Ketiganya termasuk dalam spektrum teknologi immersive reality. Pilihan teknologi bergantung pada pengalaman yang ingin dibuat, perangkat yang tersedia, dan kebutuhan penggunanya.
Buat brand, memahami perbedaan ini penting supaya ide kampanye nggak cuma terlihat canggih, tetapi juga sesuai dengan kemampuan perangkat dan kebutuhan audiens.
Selama ini, banyak interaksi digital terjadi lewat layar smartphone atau komputer. Immersive reality membuka kemungkinan agar informasi digital bisa hadir lebih dekat dengan objek dan aktivitas di dunia nyata.
Buat brand, ini berarti ada cara baru untuk membantu pelanggan mengenal, mencoba, atau memahami produk. Tapi, peluang tersebut tetap perlu dilihat berdasarkan konteks dan pengalaman yang benar-benar dibutuhkan pengguna.
Salah satu penerapan AR yang sudah dikenal adalah virtual try-on.
Pelanggan bisa mencoba makeup atau kacamata secara virtual, atau melihat gambaran furnitur di dalam ruangan melalui perangkat yang mendukung fitur tersebut. Mereka bisa mendapatkan gambaran awal tentang produk tanpa harus mencobanya secara fisik terlebih dahulu.
Pengalaman seperti ini bisa membantu pelanggan mempertimbangkan pembelian, terutama untuk produk yang penampilan atau kecocokannya berpengaruh terhadap keputusan mereka.
Meski begitu, pengalaman virtual tetap perlu dirancang dengan baik. Visual yang akurat, cara penggunaan yang mudah, dan informasi produk yang jelas tetap menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut.
Bayangkan pelanggan melihat sebuah produk di toko dan ingin tahu lebih banyak tentang spesifikasi atau cara penggunaannya.
Dalam skenario AR yang mendukung, informasi digital bisa ditampilkan bersamaan dengan objek fisik. Sementara itu, smart glasses berbasis AI tanpa layar mungkin lebih berfokus memberikan jawaban melalui audio atau interaksi dengan asisten AI.
Brand bisa mengeksplorasi pengalaman seperti panduan penggunaan, informasi produk, atau bantuan layanan yang lebih kontekstual. Namun, bentuk implementasinya bergantung pada perangkat, aplikasi, dan izin akses yang tersedia.
Kuncinya bukan menampilkan sebanyak mungkin informasi. Justru, informasi perlu hadir saat benar-benar dibutuhkan supaya pengalaman pelanggan terasa lebih praktis.

Immersive reality juga bisa digunakan untuk menghadirkan pengalaman yang sulit diperoleh hanya dari konten dua dimensi.
Contohnya, brand dapat membuat demonstrasi produk dalam bentuk 3D, tur virtual, atau pengalaman interaktif yang memungkinkan pelanggan mengeksplorasi detail produk.
Dalam industri tertentu, teknologi ini juga bisa membantu pelatihan, simulasi, dan demonstrasi cara kerja suatu produk.
Tapi, brand nggak harus selalu menggunakan teknologi paling canggih untuk menciptakan pengalaman yang menarik. Teknologi baru layak digunakan ketika memang membantu pelanggan memahami produk atau menyelesaikan kebutuhan mereka.
Baca juga: Ray-Ban Meta Gen 3 untuk Content Creator, Bisa Bikin Cara Bikin Konten Berubah?
Meski peluangnya menarik, immersive reality belum tentu cocok untuk setiap bisnis atau kampanye.
McKinsey menempatkan immersive reality sebagai teknologi yang masih berada pada tahap adopsi awal dalam laporan 2026. Artinya, peluangnya layak dieksplorasi, tetapi implementasinya masih perlu mempertimbangkan kebutuhan, kesiapan teknologi, dan manfaat bisnis.
Ada beberapa hal yang sebaiknya diperiksa sebelum mulai mengembangkan pengalaman berbasis immersive reality.
1. Pahami kebutuhan audiens. Apakah mereka benar-benar membutuhkan pengalaman AR, atau pengalaman melalui video, website, atau aplikasi biasa sudah cukup?
2. Perhatikan perangkat yang digunakan. Pengalaman yang berjalan di smartphone punya jangkauan berbeda dengan pengalaman yang membutuhkan smart glasses atau headset khusus.
3. Tentukan cara mengukur hasilnya. Apakah tujuan kampanye untuk meningkatkan pemahaman produk, mendorong interaksi, membantu konversi, atau meningkatkan efektivitas pelatihan? Tentukan metrik yang sesuai dengan tujuan tersebut.
4. Pikirkan privasi pengguna. Perangkat yang menggunakan kamera, mikrofon, atau sensor untuk memahami lingkungan perlu dirancang dengan memperhatikan izin akses, transparansi, dan perlindungan data.
Teknologi yang terlihat futuristik belum tentu menjadi solusi terbaik untuk setiap masalah. Yang paling penting adalah memastikan pengalaman tersebut benar-benar memberikan manfaat yang jelas bagi pengguna dan bisnis.
Mengikuti perkembangan immersive reality bukan berarti setiap marketer harus langsung belajar membuat aplikasi AR atau membangun perangkat sendiri.
Namun, pemahaman tentang teknologi dan perilaku pengguna bisa membantu marketer melihat peluang baru. Beberapa kemampuan yang relevan antara lain memahami kebutuhan audiens, menyusun strategi konten, merancang customer journey, dan mengevaluasi performa kampanye.
Bagi UI/UX Designer, pemahaman tentang perilaku pengguna juga penting ketika merancang interaksi yang melibatkan lingkungan fisik. Sementara itu, developer berperan dalam membangun fungsi teknis yang memungkinkan pengalaman tersebut berjalan.
Dengan kata lain, pengalaman immersive reality nggak hanya berkaitan dengan teknologi. Pengalaman pengguna, strategi komunikasi, dan tujuan bisnis tetap punya peran besar dalam menentukan apakah sebuah implementasi benar-benar berguna.
Kalau kamu tertarik memperdalam skill digital marketing dan memahami cara menyusun strategi berdasarkan kebutuhan audiens, kamu bisa mengeksplorasi program Job Connector Digital Marketing Purwadhika. Pelajari kurikulum, proyek praktik, dan metode belajarnya untuk melihat apakah program tersebut sesuai dengan tujuanmu.
Immersive reality membuka kemungkinan baru bagi brand untuk menghubungkan pengalaman digital dengan dunia nyata. Smart glasses, AR, VR, dan MR menawarkan cara berbeda untuk membantu orang memahami informasi, mengeksplorasi produk, atau melakukan aktivitas tertentu.
Namun, teknologinya masih terus berkembang dan belum semua pengalaman cocok diterapkan untuk semua bisnis.
Daripada sekadar mengikuti tren, brand sebaiknya mulai dari kebutuhan pelanggan. Cari tahu pengalaman apa yang ingin diperbaiki, lalu tentukan apakah immersive reality memang solusi yang relevan.
Karena pada akhirnya, teknologi yang menarik perhatian belum tentu otomatis memberikan pengalaman terbaik. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut membantu pelanggan melakukan sesuatu dengan lebih mudah, jelas, dan berguna.
Immersive reality adalah kelompok teknologi yang menggabungkan pengalaman digital dengan lingkungan virtual atau dunia fisik. Teknologi ini mencakup augmented reality, virtual reality, mixed reality, haptics, dan berbagai perangkat wearable berbasis teknologi imersif.
AR menambahkan elemen digital ke lingkungan nyata, sedangkan VR membawa pengguna ke lingkungan virtual yang menggantikan pandangan terhadap dunia nyata. Keduanya digunakan untuk kebutuhan yang berbeda, tergantung pengalaman yang ingin dibuat.
Smart glasses dapat membantu aktivitas seperti komunikasi hands-free, pengambilan informasi, panduan kerja, dan penggunaan asisten AI. Manfaat spesifiknya bergantung pada fitur perangkat dan aplikasi yang digunakan. Dalam lingkungan bisnis, perangkat ini juga perlu mempertimbangkan keamanan serta privasi data.
Bisa, jika perangkatnya memiliki kemampuan display dan dukungan aplikasi AR. Namun, nggak semua smart glasses dapat menampilkan elemen digital di depan mata. Sebagian perangkat hanya menyediakan kamera, audio, dan fitur AI.
Belum tentu. Brand perlu mempertimbangkan kebutuhan audiens, perangkat yang digunakan, biaya implementasi, privasi, dan hasil yang ingin dicapai. Untuk beberapa kebutuhan, konten video, website, atau aplikasi biasa mungkin sudah cukup efektif.
bagikan
ARTIKEL TERKAIT