purwadhika-logo
hamburger-menu
Purwadhika Logo

Programs

Partnership

For Corporate

Community

Why Purwadhika


Banting Setir Jadi Performance Marketer di Amerika? Simak Kisah Gregory!

Purwadhika

28 May 2026

2_b2c275b138.jpg

Switch carrer di usia yang sudah hampir menginjak kepala tiga sering kali menjadi momok yang menakutkan bagi banyak orang. Bayangan harus memulai segalanya dari nol, bersaing dengan fresh graduate yang lebih muda, hingga keraguan akan kemampuan diri sering kali menghentikan langkah sebelum sempat mencoba. Namun, bagi Gregory Purba, usia 28 justru menjadi momentum titik balik yang membawa hidupnya ke arah yang tidak pernah ia duga sebelumnya yaitu menjadi seorang performance marketer profesional di agensi global.

Gregory Purba adalah lulusan sarjana Bisnis dan Perdagangan dari Monash University Malaysia yang mengawali kariernya selama empat tahun di industri penerbangan sebagai Business Development Executive. Dorongan kuat untuk menjadi pengusaha membuatnya sempat terjun ke bisnis suplai makanan pada akhir 2021. Sayangnya, kondisi ekonomi yang tidak menentu dan penjualan yang fluktuatif membuatnya sadar bahwa ia membutuhkan amunisi baru untuk bertahan di era digital.

Tantangan Gregory Belajar dari Nol di Digital Talent Incubator

Keputusan Gregory untuk mendalami digital marketing awalnya didorong oleh keinginan sederhana, yaitu menyelamatkan bisnis pribadinya agar lebih relevan dengan perubahan perilaku konsumen. Setelah melakukan riset mendalam terhadap berbagai institusi pendidikan, ia memilih Purwadhika dan berhasil mendapatkan beasiswa dalam program Digital Talent Incubator. Bagi seorang career switcher seperti Gregory, proses menyerap materi baru merupakan tantangan tersendiri. Ia harus mempelajari berbagai hal teknis mulai dari strategi pemasaran digital, campaign media sosial, hingga analisis data untuk pertumbuhan bisnis. Salah satu bagian paling krusial dalam fase belajarnya adalah saat mengerjakan proyek nyata. Menurutnya, kurikulum yang disusun memberikan landasan kuat untuk belajar dari dasar, sementara dosen praktisi membagikan pengalaman industri yang tidak ditemukan di buku teks.

“Start even if it's not perfect. Waiting until you feel ready is just another way of avoiding progress. Most people never grow not because they lack of talent but because they never start.”

Melalui pengerjaan proyek-proyek riil tersebut, Gregory tidak hanya memahami teori, tetapi juga membangun portofolio yang mampu mencuri perhatian perekrut saat ia mulai melamar pekerjaan. Fokus pada praktik langsung inilah yang membantunya menjembatani kesenjangan antara teori akademis dan kebutuhan industri yang dinamis.

Menjadi Performance Marketer Global & Realita Kerja Remote di Agensi Amerika Serikat

Niat awal yang hanya ingin membantu bisnis sendiri justru membawanya ke karier internasional sebagai seorang performance marketer di sebuah agensi yang berbasis di Amerika Serikat. Pekerjaan ini ia jalani fully remote, sebuah fleksibilitas yang sangat ia hargai karena memberikan lebih banyak waktu berkualitas bersama keluarga dan teman-teman. Menariknya, bekerja untuk perusahaan luar negeri memberikan Gregory perspektif baru mengenai budaya kerja profesional. Ia menemukan bahwa banyak perusahaan di Amerika Serikat tidak terlalu memusingkan jumlah jam kerja secara kaku, melainkan lebih fokus pada output dan hasil nyata yang diberikan oleh seorang performance marketer. Hal ini sangat relevan bagi para pekerja paruh waktu atau part-timer yang mendambakan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan tuntutan profesional. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Gregory merasa bahwa memiliki karier yang stabil di bidang digital sekaligus menjalankan bisnis pribadinya adalah strategi terbaik untuk menjaga stabilitas finansial dan pertumbuhan diri. Jabatan sebagai performance marketer bukan sekadar pekerjaan baginya, melainkan aset berharga dalam perjalanan kewirausahaannya di masa depan.

Pesan Gregory untuk Angkatan Muda

Bagi para fresh graduate yang masih mencari jati diri, atau career switcher yang sedang merasa tertinggal oleh rekan sejawat, Gregory menitipkan pesan yang sangat menyentuh. Ia menekankan bahwa setiap orang memiliki jalurnya masing-masing dengan kecepatan yang berbeda. Baginya, hidup bukanlah sebuah perlombaan lari cepat, melainkan maraton yang membutuhkan daya tahan. Ada tiga kunci utama yang Gregory bagikan untuk siapa pun yang ingin meningkatkan nilai diri di pasar kerja saat ini. Pertama, beranikan diri untuk memulai meskipun merasa belum sempurna. Kedua, jangan pernah berhenti upgrading skills karena memiliki keahlian baru berarti membangun lebih banyak opsi karier, pendapatan, dan kehidupan yang lebih baik. Ketiga, tetaplah konsisten dalam proses belajar dan bekerja. Sebagai penutup, Gregory membuktikan bahwa konsistensi akan selalu mengalahkan kecepatan dan kebisingan sesaat. Menjadi seorang performance marketer yang sukses di agensi internasional di usia 28 tahun bukanlah sebuah kemustahilan jika seseorang memiliki keberanian untuk mencoba kembali. Kisah Gregory adalah pengingat bagi kita semua bahwa untuk menjadi sedikit lebih hebat dari hari kemarin, hal yang paling perlu dilakukan hanyalah mulai melangkah.


bagikan


wa-button