Sri Fersney Hedwinanto
∙28 October 2026
Short-form video menjadi salah satu format konten dengan ROI tertinggi pada 2026 karena dalam dokumen State of Marketing Report 2026 dari HubSpot, sekitar 49% marketer menilai video pendek sebagai format konten dengan ROI tertinggi, lebih tinggi dibandingkan video panjang, live streaming, maupun blog posts dalam survei tersebut.
Format seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts banyak diandalkan marketer karena bisa menyampaikan pesan dengan cepat sekaligus menjangkau audiens baru.
Tapi, bukan berarti asal upload video 30 detik langsung bikin penjualan naik. Supaya hasilnya nggak berhenti di views, kamu tetap perlu memikirkan siapa yang ingin dijangkau, pesan apa yang ingin disampaikan, dan tindakan apa yang diharapkan setelah mereka menonton.
Jadi, apa yang membuat format ini menarik bagi marketer, dan bagaimana cara memanfaatkannya untuk bisnis?
Coba ingat terakhir kali kamu scrolling TikTok atau Reels. Mungkin awalnya cuma ingin melihat satu video, tetapi tanpa sadar sudah menonton beberapa video berikutnya.
Format video pendek cocok dengan kebiasaan konsumsi konten seperti ini. Pesan bisa disampaikan dalam waktu singkat, mulai dari hiburan, tips praktis, review produk, sampai penjelasan tentang sebuah layanan.
Nggak heran kalau banyak brand mulai serius menggarap format ini.
Dalam laporan HubSpot 2026, sebanyak 60% marketer yang disurvei menyebut short-form video sebagai salah satu format yang digunakan dalam strategi konten mereka. HubSpot juga mencatat bahwa format ini menjadi salah satu prioritas investasi konten pada 2026.
Namun, menarik perhatian audiens baru hanyalah langkah awal. Video yang ramai ditonton belum tentu membuat orang tertarik membeli produk, mengunjungi website, atau menghubungi bisnis.
Di sinilah strategi konten berperan.
Data HubSpot menunjukkan bahwa short-form video berada di posisi teratas dalam daftar format konten dengan ROI tertinggi menurut marketer yang disurvei pada 2026.
Berikut perbandingan hasil surveinya.
| Format konten | Persentase marketer yang menilai ROI-nya tinggi |
|---|---|
| Short-form video | 48,6% |
| Long-form video | 28,6% |
| Live streaming | 25,1% |
| User-generated content (UGC) | 24% |
| Blog posts | 22,3% |
Sumber: HubSpot, 2026 State of Marketing. Angka menunjukkan pilihan responden mengenai format dengan ROI tertinggi, bukan tingkat keuntungan aktual dari masing-masing format.
Temuan ini menunjukkan bahwa banyak marketer melihat potensi besar dari video pendek. Meski begitu, hasil setiap bisnis bisa berbeda, tergantung target audiens, jenis produk, biaya produksi, distribusi konten, dan cara mengukur performanya.
Blog posts, misalnya, tetap bisa berperan penting untuk memberikan informasi yang lebih mendalam atau menjangkau orang yang sedang mencari solusi tertentu. Jadi, bukan soal memilih satu format lalu meninggalkan yang lain.
Yang lebih penting adalah mengetahui fungsi setiap format dalam strategi marketing kamu.

Supaya video pendek nggak cuma ramai ditonton, kontennya perlu disesuaikan dengan tujuan marketing. Salah satu cara untuk memikirkannya adalah melalui marketing funnel, yaitu perjalanan audiens dari mengenal brand sampai mengambil tindakan.
Di tahap awal, orang belum tentu mengenal brand atau produkmu. Karena itu, fokus konten bisa diarahkan pada masalah, kebiasaan, atau situasi yang dekat dengan kehidupan audiens.
Contohnya, brand skincare bisa membuat video tentang kesalahan umum saat menggunakan produk perawatan kulit. Bisnis makanan bisa menunjukkan proses pembuatan menu andalannya. Sementara itu, brand pendidikan bisa membagikan tips belajar skill tertentu.
Konten seperti ini memberi alasan bagi orang untuk berhenti scrolling dan memperhatikan pesan yang disampaikan.
Pada tahap ini, metrik yang bisa diamati antara lain reach, views, watch time, dan jumlah penonton yang bertahan sampai bagian penting video.
Setelah audiens mengenal brand, langkah berikutnya adalah membantu mereka memahami produk atau layanan yang kamu tawarkan.
Kamu bisa membuat video yang menjawab pertanyaan umum, menunjukkan cara kerja produk, membandingkan beberapa pilihan, atau memberikan contoh penggunaan dalam situasi nyata.
Misalnya, brand software bisa memperlihatkan bagaimana sebuah fitur membantu menyederhanakan pekerjaan. Brand pendidikan bisa membagikan gambaran proses belajar atau contoh proyek yang dikerjakan peserta.
Konten ini bukan cuma tentang menarik perhatian. Tujuannya membantu audiens menilai apakah produk atau layanan tersebut relevan dengan kebutuhan mereka.
Metrik yang bisa diperhatikan antara lain saves, shares, kunjungan profil, klik ke website, dan pertanyaan yang masuk.
Ketika audiens sudah cukup memahami produk, video bisa diarahkan untuk mendorong tindakan berikutnya.
Misalnya, mengunjungi halaman produk, mendaftar webinar, mencoba layanan, atau menghubungi tim sales.
Promo juga bisa digunakan jika memang sesuai dengan strategi dan kondisi bisnis. Namun, kamu nggak harus selalu mengandalkan diskon atau urgensi berbatas waktu untuk mendorong konversi.
Pastikan CTA sesuai dengan isi video dan langkah yang ingin kamu dorong. Kalau ingin audiens mendaftar, misalnya, berikan informasi yang cukup agar mereka tahu apa yang akan didapatkan dan bagaimana cara mendaftar.
Setelah itu, ukur hasilnya melalui klik, leads, pendaftaran, atau pembelian. Dengan begitu, kamu bisa menilai apakah video tersebut benar-benar membantu mencapai tujuan marketing.
Audiens melihat banyak konten setiap hari. Kalau semua video terasa seperti iklan yang sama, brand akan semakin sulit menunjukkan perbedaannya.
Karena itu, pendekatan yang terasa natural bisa menjadi pilihan menarik. Bukan berarti semua konten harus dibuat seadanya, tetapi pesan dan cara penyampaiannya perlu terasa relevan dengan audiens.
Salah satu format yang bisa dicoba adalah user-generated content (UGC), yaitu konten yang dibuat oleh pengguna atau pelanggan, misalnya review, pengalaman menggunakan produk, atau demonstrasi pemakaian.
Brand juga bisa membuat konten dengan menampilkan orang di balik produk, menjawab pertanyaan pelanggan, atau memperlihatkan proses kerja secara lebih terbuka.
Dalam laporan HubSpot 2026, 62,7% marketer menilai bahwa konten yang lebih unik dan berpusat pada manusia semakin dibutuhkan untuk bersaing dengan banyaknya konten AI. Angka ini menggambarkan pandangan para marketer yang disurvei, bukan bukti bahwa seluruh audiens selalu lebih menyukai satu jenis konten.
Intinya, autentik bukan berarti asal membuat video. Konten tetap perlu punya ide, pesan yang jelas, dan kualitas yang sesuai dengan kebutuhan brand.
Salah satu keuntungan video pendek adalah kamu bisa mulai bereksperimen tanpa harus selalu membuat produksi yang kompleks. Untuk konten tertentu, smartphone, pencahayaan yang cukup, dan ide yang jelas sudah bisa menjadi titik awal.
Tapi, biaya produksi yang lebih rendah bukan berarti strategi bisa dilewatkan.
Kalau ingin menguji format ini, kamu bisa mulai dengan langkah sederhana.
1. Tentukan satu tujuan. Apakah ingin meningkatkan awareness, mendatangkan kunjungan website, mendapatkan leads, atau mendorong pembelian? Tujuan ini akan menentukan bentuk konten dan metrik yang perlu diamati.
2. Coba beberapa pendekatan kreatif. Misalnya, buat video berbentuk tutorial, storytelling, demonstrasi produk, atau menjawab pertanyaan yang sering muncul. Jangan langsung menganggap satu format pasti berhasil untuk semua audiens.
3. Evaluasi hasilnya. Perhatikan bukan cuma jumlah views, tetapi juga watch time, engagement, klik, leads, dan pembelian sesuai tujuan kampanye.
4. Pelajari apa yang bisa diperbaiki. Kalau banyak orang menonton tetapi sedikit yang mengunjungi website, mungkin pesan atau CTA perlu diperjelas. Kalau penonton pergi di awal, coba evaluasi opening dan relevansi topik.
5. Hitung biaya dan hasil bisnisnya. ROI perlu dilihat bersama biaya produksi, distribusi, dan hasil yang bisa diatribusikan ke kampanye. Views yang tinggi saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa sebuah video menghasilkan keuntungan.
Dengan pendekatan ini, setiap eksperimen bisa memberikan insight untuk konten berikutnya, termasuk ketika hasilnya belum sesuai harapan.
Membuat video pendek memang bisa terlihat sederhana. Namun, menjalankannya sebagai bagian dari strategi marketing membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengedit video.
Kamu perlu memahami audiens, menentukan pesan yang relevan, menyusun storytelling, dan memilih format yang sesuai dengan tujuan kampanye.
Kemampuan membaca data juga penting. Tanpa evaluasi performa, kamu mungkin tahu video mana yang ramai ditonton, tetapi belum tentu memahami mengapa video tersebut berhasil atau bagaimana hasilnya berhubungan dengan tujuan bisnis.
Itulah kenapa short-form video sebaiknya nggak dipisahkan dari kemampuan digital marketing lainnya. Riset audiens, strategi konten, pemahaman marketing funnel, distribusi, dan analisis data tetap saling berkaitan.
Kalau kamu ingin mendalami kemampuan tersebut secara lebih terstruktur, kamu bisa mengenal program Job Connector Digital Marketing Purwadhika dan mempelajari kurikulum, proyek praktik, serta metode belajarnya untuk melihat apakah program tersebut sesuai dengan tujuanmu.
Short-form video layak dipertimbangkan sebagai bagian penting dari strategi marketing, terutama jika audiens kamu aktif di platform video pendek dan formatnya sesuai dengan tujuan kampanye.
Data HubSpot memberikan alasan kuat untuk mengeksplorasinya, tetapi bukan berarti semua budget harus dialihkan ke video. Blog, gambar, live streaming, dan UGC juga bisa memberikan kontribusi berbeda sesuai kebutuhan bisnis.
Jadi, jangan hanya mengejar tren atau views. Mulai dengan memahami audiens, menyusun konten yang relevan, dan menentukan hasil yang ingin dicapai. Setelah itu, gunakan data untuk melihat apa yang bekerja dan apa yang perlu diperbaiki.
Karena konten yang efektif bukan cuma konten yang ditonton, tetapi konten yang membantu bisnis mencapai tujuannya.
Short-form video marketing adalah penggunaan video berdurasi pendek untuk mendukung tujuan pemasaran, seperti mengenalkan brand, menjelaskan produk, membangun ketertarikan, atau mendorong konversi. Formatnya dapat digunakan di TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts.
Dalam survei HubSpot 2026, short-form video menjadi format yang paling banyak dipilih marketer sebagai format konten dengan ROI tertinggi. Namun, hasil aktual tetap bergantung pada audiens, strategi, biaya, dan tujuan bisnis.
Nggak ada satu durasi yang selalu ideal untuk semua konten. Durasi perlu disesuaikan dengan pesan, platform, dan tingkat kerumitan topik. Pastikan video menyampaikan inti pesan tanpa menambahkan bagian yang tidak diperlukan.
Tentukan terlebih dahulu tujuan kampanye, lalu ukur hasil yang relevan, seperti leads, pendaftaran, atau penjualan. Bandingkan hasil tersebut dengan biaya yang dikeluarkan dan gunakan metode atribusi yang sesuai. Views dan engagement saja belum cukup untuk menghitung ROI bisnis.
Bisa dipertimbangkan, terutama jika audiensnya aktif di platform tersebut dan video cocok untuk menjelaskan produk atau layanan. Bisnis kecil dapat mulai dari produksi sederhana, menguji beberapa ide, lalu mengevaluasi hasil sebelum menambah budget.
Short-form video mengacu pada format video pendek, sedangkan UGC mengacu pada konten yang dibuat pengguna atau pelanggan. Keduanya bisa saling beririsan, misalnya ketika pelanggan membagikan review produk dalam bentuk video pendek.
bagikan
ARTIKEL TERKAIT