Shandri Mayastari
∙20 October 2026
Coba perhatikan beberapa lowongan kerja belakangan ini. Walaupun posisi yang dibuka berbeda beda, ada pola yang cukup jelas. Banyak perusahaan mulai mencari kandidat yang punya kemampuan digital tertentu, mulai dari AI, data, cybersecurity, cloud, coding, sampai digital marketing.
Perubahan ini bukan cuma terjadi di perusahaan teknologi. Industri keuangan, retail, manufaktur, media, pendidikan, sampai layanan profesional juga semakin bergantung pada teknologi dalam kegiatan sehari hari. Karena itu, punya kemampuan digital sekarang bukan lagi sekadar nilai tambah. Di banyak posisi, kemampuan ini mulai menjadi bagian dari kebutuhan dasar.
PwC dalam AI Jobs Barometer 2026 mencatat bahwa lowongan yang membutuhkan keterampilan AI tumbuh sekitar 69 persen, jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan pasar kerja secara keseluruhan yang berada di sekitar 9 persen. Pekerjaan yang membutuhkan skill AI juga memiliki premi upah rata rata sekitar 62 persen.
Di Indonesia, tantangannya juga cukup nyata. Rencana Strategis BPSDM Komdigi 2025 sampai 2029 mencatat bahwa 56,3 persen perusahaan mengaku sulit atau sangat sulit mendapatkan pekerja dengan kemampuan digital yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Artinya, kebutuhan industrinya ada. Pertanyaannya sekarang, skill apa saja yang paling relevan?
Kalau beberapa tahun lalu AI masih terasa seperti teknologi masa depan, sekarang kondisinya sudah berbeda. AI mulai masuk ke pekerjaan sehari hari. Tim marketing memakainya untuk riset dan ide konten. Data analyst memakainya untuk membantu eksplorasi data. Tim customer service mulai menggunakan AI untuk membantu menjawab pertanyaan pelanggan. Bahkan pekerjaan administratif juga mulai dibantu automation. World Economic Forum menempatkan AI dan big data sebagai skill dengan pertumbuhan kebutuhan paling tinggi menuju 2030.
Menariknya, perusahaan bukan hanya mencari orang yang memahami teknologi AI secara teknis. Mereka juga membutuhkan orang yang bisa menggunakannya dengan benar dalam konteks pekerjaan. Jadi, kemampuan memahami AI sekarang mulai relevan bahkan untuk orang yang bukan berasal dari bidang IT.
Setiap hari perusahaan menghasilkan data. Ada data penjualan, transaksi, perilaku pelanggan, traffic website, performa campaign, operasional, sampai data internal perusahaan. Masalahnya, data sebanyak apa pun tidak banyak berguna kalau tidak bisa dibaca dan diubah menjadi insight. Di sinilah kebutuhan terhadap data analytics terus meningkat. Perusahaan membutuhkan orang yang bisa menjawab pertanyaan seperti kenapa penjualan turun, produk mana yang paling menguntungkan, campaign mana yang paling efektif, atau customer mana yang punya peluang pembelian ulang paling tinggi. Karena itu, data analytics tidak hanya relevan untuk posisi data analyst. Marketing, finance, operations, sales, sampai product juga semakin sering bekerja dengan data.
Semakin banyak aktivitas perusahaan dilakukan secara digital, semakin besar juga risiko yang harus dijaga.Data pelanggan, transaksi, informasi internal, hingga sistem operasional perusahaan bisa menjadi target serangan.Karena itu, cybersecurity menjadi salah satu bidang yang kebutuhannya terus meningkat.World Economic Forum menempatkan networks and cybersecurity sebagai salah satu skill teknologi dengan pertumbuhan kebutuhan tercepat menuju 2030.

Cybersecurity juga bukan hanya soal hacking. Di dalamnya ada network security, cloud security, application security, data protection, identity management, incident response, sampai security monitoring. Bagi perusahaan, kebutuhan terhadap cybersecurity semakin besar karena hampir setiap aktivitas bisnis sekarang bergantung pada sistem digital.
Ketika membuka aplikasi, menggunakan layanan streaming, menjalankan website, atau menyimpan data perusahaan, besar kemungkinan ada cloud infrastructure di belakangnya. Cloud membuat perusahaan bisa menjalankan aplikasi dan sistem tanpa harus membangun seluruh infrastruktur fisik sendiri. Karena itu, kemampuan memahami cloud juga semakin relevan. AWS, Microsoft Azure, dan Google Cloud menjadi beberapa platform yang banyak digunakan perusahaan. Namun kebutuhan industri tidak hanya sebatas memahami platform tertentu. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana aplikasi, database, storage, security, dan networking bisa berjalan sebagai satu sistem.
Website, aplikasi, dashboard internal, automation, dan berbagai layanan digital tetap membutuhkan software developer. World Economic Forum juga menempatkan software and application developers sebagai salah satu kelompok pekerjaan yang tumbuh cepat menuju 2030. World Economic Forum Namun cara kerja developer sekarang ikut berubah karena AI mulai membantu proses coding. Hal ini bukan berarti kebutuhan developer hilang. Justru perannya semakin bergeser dari sekadar menulis code menjadi memahami masalah, merancang solusi, melakukan debugging, menghubungkan sistem, serta memastikan aplikasi bekerja sesuai kebutuhan pengguna. Kemampuan memahami API, database, Git, automation, dan software architecture juga menjadi semakin relevan.
Digital marketing bukan lagi sekadar membuat postingan atau menjalankan iklan.Perusahaan sekarang membutuhkan marketer yang memahami perjalanan konsumen dari awal sampai akhir. Bagaimana seseorang menemukan brand dan apa yang membuatnya tertarik. Kenapa dia membeli. Dan apa yang membuatnya kembali lagi. Karena itu, digital marketing sekarang semakin dekat dengan data, analytics, automation, dan eksperimen. SEO, social media, content marketing, Meta Ads, Google Ads, email marketing, conversion optimization, sampai analytics menjadi bagian yang sering saling terhubung.World Economic Forum juga mencatat marketing and media sebagai salah satu skill yang tetap mengalami peningkatan kebutuhan. World Economic Forum
Ada satu hal yang menarik dari perubahan dunia kerja sekarang. Semakin banyak pekerjaan dibantu teknologi, kemampuan manusia justru semakin penting.World Economic Forum masih menempatkan analytical thinking, creative thinking, resilience, leadership, dan collaboration sebagai kemampuan penting di masa depan. World Economic Forum PwC juga melihat pola yang sama. Ketika AI semakin banyak mengambil pekerjaan rutin, perusahaan justru semakin menghargai judgement, leadership, dan kemampuan manusia lainnya. PwC Artinya, perusahaan tidak hanya mencari orang yang bisa menggunakan tools.Mereka mencari orang yang bisa memahami masalah, mengambil keputusan, menjelaskan ide, bekerja dengan tim, dan menggunakan teknologi untuk menghasilkan sesuatu yang berguna. Seorang data analyst yang bisa membuat dashboard akan lebih bernilai kalau bisa menjelaskan insight-nya dengan sederhana. Seorang marketer yang menguasai AI akan lebih berguna kalau tetap memahami perilaku konsumen. Seorang developer akan lebih kuat kalau bisa memahami kebutuhan bisnis, bukan hanya menulis code.
Perubahan kebutuhan skill juga ikut memengaruhi cara perusahaan melihat kandidat. Gelar dan pengalaman tetap penting, tetapi kemampuan nyata semakin diperhatikan. Portfolio, project, case study, dan pengalaman mengerjakan sesuatu bisa membantu perusahaan melihat apakah seseorang benar benar memahami skill yang dicantumkan di CV. Ini juga menjadi peluang bagi fresh graduate dan career switcher. Seseorang tidak harus punya pengalaman bertahun tahun untuk menunjukkan kemampuan. Yang penting ada bukti bahwa skill tersebut pernah digunakan untuk menyelesaikan masalah tertentu. Kandidat sedang menunjukkan portfolio digital kepada recruiter melalui laptop.
World Economic Forum memperkirakan hampir 40 persen skill utama yang digunakan pekerja saat ini akan berubah menuju 2030. Itulah kenapa memahami tren skill menjadi penting.Bukan supaya kita terus mengejar semua teknologi baru, tetapi supaya tahu ke mana arah dunia kerja bergerak. AI mungkin menjadi topik terbesar sekarang. Namun data, cybersecurity, cloud, software development, dan digital marketing tetap punya peran besar karena semuanya saling terhubung.
Yang paling penting bukan berapa banyak skill yang dimiliki. Yang lebih penting adalah apakah skill tersebut benar benar bisa digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan. Karena pada akhirnya, perusahaan tidak hanya mencari orang yang tahu banyak hal. Mereka mencari orang yang bisa memberikan hasil.
bagikan
ARTIKEL TERKAIT