Muhammad Rizky Fadlillah Kurdi
∙03 October 2026
Ketika seseorang mencari produk atau layanan di Google, mereka sering kali menggunakan kata-kata yang sangat spesifik untuk mendeskripsikan apa yang mereka butuhkan. Namun, seorang pengiklan mungkin memiliki puluhan keywords (kata kunci) terkait di dalam campaign (kampanye) yang sama. Menulis iklan terpisah untuk setiap keyword bisa dengan cepat menjadi tidak efisien. Di sinilah Dynamic Keyword Insertion (DKI) bisa menjadi sangat berguna.
Dynamic Keyword Insertion adalah fitur Google Ads yang memungkinkan pengiklan untuk secara dinamis menyisipkan sebuah keyword dari ad group (grup iklan) ke dalam teks iklan mereka. Alih-alih membuat ad copy (teks iklan) yang sama sekali berbeda untuk setiap keyword, pengiklan dapat membuat sebuah template yang beradaptasi berdasarkan keyword yang memicu iklan tersebut muncul. Namun, DKI bukan sekadar tentang menyisipkan lebih banyak keyword ke dalam sebuah iklan. Fitur ini perlu digunakan dengan hati-hati agar iklan yang dihasilkan tetap relevan, memiliki tata bahasa yang benar, dan mematuhi kebijakan periklanan (advertising policies). Jadi, apa itu Dynamic Keyword Insertion, bagaimana cara kerjanya, dan kapan Anda sebaiknya menggunakannya? Mari kita bahas lebih lanjut.
Dynamic Keyword Insertion (DKI) adalah fitur Google Ads yang secara otomatis memperbarui sebagian teks iklan Anda dengan sebuah keyword dari ad group yang menyebabkan iklan tersebut tayang. Sebagai contoh, bayangkan seorang pengiklan menjual produk coklat dan memiliki sebuah ad group yang berisi keywords seperti:
Prosesnya relatif lugas dan sederhana.
Pertama, pengiklan mengelompokkan keywords yang saling berkaitan ke dalam sebuah ad group. Sebagai contoh: Ad Group: Sepatu Lari Possible keywords:
Pengiklan dapat menyisipkan parameter keyword insertion ke dalam iklan. Format yang umum digunakan adalah: {KeyWord:Teks Default} Sebagai contoh: Beli {KeyWord: Sepatu Lari} Teks default adalah apa yang akan digunakan oleh Google Ads ketika keyword tidak dapat disisipkan dengan semestinya.
Ketika iklan tersebut memenuhi syarat untuk tayang, Google Ads akan mencoba mengganti kode penyisipan tersebut dengan keyword yang memenuhi syarat dari ad group terkait. Sebagai contoh: Template: Beli {KeyWord: Sepatu Lari} Possible ad: Beli Sepatu Lari Trail Dokumentasi Google mencatat bahwa keyword yang digunakan untuk penyisipan adalah keyword di dalam ad group yang menyebabkan iklan tersebut muncul, dan belum tentu sama persis dengan search term (istilah pencarian) yang diketikkan oleh pengguna.
Misalkan keyword Anda terlalu panjang untuk ruang teks yang tersedia. Daripada memaksakan keyword yang panjang tersebut ke dalam iklan, Google Ads dapat menggunakan teks default. Sebagai contoh: Beli {KeyWord: Sepatu Lari} bisa ditampilkan sebagai: Beli Sepatu Lari ketika keyword aslinya tidak muat. Hal ini membuat teks default menjadi bagian penting dari iklan, bukan sekadar cadangan yang bisa diabaikan begitu saja.
##Contoh Dynamic Keyword Insertion Mari gunakan contoh sederhana untuk memahami DKI. Bayangkan sebuah toko online yang menjual peralatan kopi. Ad group tersebut berisi:
##Apa Saja Manfaat Dynamic Keyword Insertion?
Salah satu tujuan utama keyword insertion adalah untuk membuat teks iklan menjadi lebih relevan dengan keywords yang terkait dengan iklan tersebut. Google menyatakan bahwa penyisipan keyword dapat membantu membuat iklan lebih relevan bagi orang-orang yang sedang mencari apa yang ditawarkan oleh pengiklan. Sebagai contoh, iklan yang berisi: Beli Sepatu Lari mungkin terasa lebih berhubungan langsung dengan pencarian yang melibatkan sepatu lari dibandingkan dengan pesan yang sepenuhnya generik seperti: Jelajahi Produk Kami. Meski demikian, relevansi tetap harus didasarkan pada hubungan keseluruhan antara keyword, iklan, dan landing page (halaman tujuan).
Tanpa DKI, seorang pengiklan mungkin perlu membuat banyak variasi dari iklan yang serupa. Sebagai contoh:
Pemasaran pencarian (search marketing) yang efektif bergantung pada pemahaman tentang apa yang dicari pengguna dan mengapa mereka mencarinya. Materi kursus SEO menekankan bahwa riset keyword mengidentifikasi apa yang orang cari, sementara search intent membantu menjelaskan alasan mereka mencari. Menggabungkan keduanya akan membantu menciptakan konten yang menjawab kebutuhan pengguna dengan lebih baik. Prinsip yang sama juga berguna saat menyusun campaign DKI. Jika sebuah ad group berisi keywords yang sangat berkaitan dengan intent yang sama, keyword insertion dapat membantu menyelaraskan ad copy dengan tema keyword tersebut.
DKI juga bisa menimbulkan masalah jika diimplementasikan tanpa kontrol yang memadai.
Strategi DKI yang berguna dimulai bahkan sebelum iklan tersebut ditulis.
Tak satu pun dari kedua pendekatan ini otomatis menjamin kinerja campaign yang lebih baik. DKI adalah sebuah alat, dan kegunaannya sangat bergantung pada struktur campaign, relevansi keyword, serta eksekusinya.
##DKI Tidak Sama dengan Dynamic Search Ads Kedua konsep ini mudah tertukar karena melibatkan elemen dinamis. Dynamic Keyword Insertion memodifikasi bagian iklan menggunakan keyword dari ad group. Sebaliknya, Dynamic Search Ads menggunakan mekanisme penargetan yang berbeda dan tidak mengandalkan penargetan keyword sama sekali.
##Bagaimana Cara Anda Mengukur Kinerja DKI? Kinerja harus dievaluasi menggunakan metrik periklanan seperti Click-through rate (CTR), Conversion rate, Cost per conversion, Conversion volume, Conversion value, dan Return on ad spend (ROAS). Pengukuran pencarian berbayar (paid search) harus berfokus pada tujuan dari campaign tersebut, bukan sekadar berasumsi bahwa klik yang lebih banyak otomatis berarti kinerja yang lebih baik. Praktik yang baik adalah menguji DKI melawan variasi iklan non-DKI yang sesuai.
Dynamic Keyword Insertion (DKI) adalah mekanisme untuk membuat campaign yang terstruktur dengan baik menjadi lebih adaptif, bukan sekadar jalan pintas untuk beriklan secara instan. Mulailah dari memahami search intent audiens, kelompokkan keywords secara logis, dan buat template iklan di mana setiap penyisipan keyword tetap relevan, memiliki tata bahasa yang benar, dan patuh pada kebijakan. Memahami intent pengguna sama pentingnya dengan keberadaan keyword itu sendiri.
bagikan
ARTIKEL TERKAIT