Sri Fersney Hedwinanto
∙02 November 2026

Thariq Ahmad Baihaqi Adinegara, lulusan Teknik Bioproses Universitas Indonesia, kini bekerja sebagai AI Engineer di Kaji Capital. Perjalanannya ke dunia AI tidak dimulai dari jurusan teknologi, melainkan dari rasa ingin tahu dan keinginan untuk punya skill tambahan di luar bidang kuliahnya. Saat mengerjakan skripsi, Thariq mulai mempelajari AI Engineering melalui Job Connector Purwadhika. Dari proses belajar, capstone project, hingga melewati sekitar 150 lamaran dan 20 sesi wawancara, ia membangun jalannya sendiri untuk masuk ke industri teknologi.
Kisah Thariq menunjukkan bahwa latar belakang non-IT bukan berarti pintu ke dunia AI tertutup. Justru, pengetahuan dari bidang sebelumnya bisa menjadi bekal untuk memahami masalah di industri yang berbeda. Namun, perpindahan bidang tetap membutuhkan proses belajar, latihan, dan bukti kemampuan yang bisa ditunjukkan kepada calon employer.
Thariq menempuh pendidikan S1 Teknik Bioproses di Universitas Indonesia pada 2021–2025. Selama kuliah, ia sudah punya ketertarikan terhadap dunia teknologi. Namun, saat itu ia merasa belum cukup tahu bagaimana cara masuk ke bidang tersebut. Ia juga lebih terbiasa dengan materi yang dekat dengan Kimia dan Fisika, sesuai dengan latar belakang studinya.
Ketika mengerjakan skripsi, Thariq berfokus pada penelitian terkait bakteri yang dapat membantu mengurai sampah. Di tengah proses tersebut, ia mulai memikirkan langkah setelah lulus. Ia ingin memiliki kemampuan tambahan yang bisa membuka pilihan pekerjaan lebih luas, sekaligus menjadi nilai tambah saat bersaing sebagai fresh graduate.
Ia juga melihat teman-temannya mulai membangun skill dan pengalaman di bidang masing-masing. Dari situ, muncul dorongan untuk tidak hanya mengandalkan ilmu dari bangku kuliah, tetapi juga mengeksplorasi kemampuan baru di luar bidang akademiknya.
Di saat yang sama, perkembangan Artificial Intelligence mulai menarik perhatiannya. Thariq mengikuti perubahan teknologi dan melihat AI sebagai bidang yang punya potensi untuk digunakan di banyak industri. Ia juga terinspirasi oleh berbagai pemikiran tokoh teknologi, seperti Elon Musk dan Sam Altman, yang membuatnya semakin tertarik memahami arah perkembangan AI.
Sebelum menentukan tempat belajar, Thariq membandingkan beberapa pilihan bootcamp AI di Indonesia melalui pencarian online. Dari pilihan yang ia pelajari, ia menilai kurikulum Job Connector AI Engineering Purwadhika paling lengkap dan terstruktur untuk kebutuhannya saat itu.
Selain kurikulum, dukungan karir juga menjadi pertimbangannya. Fasilitas konsultasi CV dan koneksi kerja dari program Job Connector memberinya dukungan tambahan dalam mempersiapkan diri memasuki pasar kerja yang kompetitif. Bagi Thariq, belajar skill baru akan lebih berarti ketika ia juga punya arahan untuk menunjukkan kemampuan tersebut kepada calon employer.
Salah satu hal yang paling terasa dampaknya bagi Thariq adalah proses membangun portfolio. Ia merasa project yang dikerjakan selama program membantunya menunjukkan kemampuan secara lebih konkret, bukan hanya mencantumkan daftar skill di CV.
“Portfolio saya terasa lebih kuat setelah belajar di Purwadhika.”
Menurut Thariq, pembelajaran yang terstruktur juga membantunya memahami materi secara bertahap. Ia tidak langsung diminta mengerjakan hal yang kompleks, tetapi mulai dari fondasi, lalu bergerak ke materi dan penerapan yang lebih lanjut. Dengan cara itu, ia bisa memahami bagaimana AI bekerja sekaligus bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk menyelesaikan suatu kebutuhan.
Capstone Project menjadi salah satu bagian yang paling berdampak. Project tersebut kemudian ia jadikan portfolio utama di CV dan bahan untuk melakukan pitching kepada calon employer. Ia juga mengapresiasi bimbingan mentor yang bersedia membantu hingga ke detail teknis, termasuk saat pengerjaan capstone, serta dukungan konsultasi CV dan persiapan karir setelah lulus.
Setelah menyelesaikan program, Thariq sempat terlibat dalam project di lingkungan kampus selama sekitar dua sampai tiga bulan. Pengalaman itu menjadi salah satu tahap awal untuk menerapkan kemampuan yang sudah dipelajari sebelum masuk ke dunia kerja.

Proses mencari pekerjaan berikutnya tidak berlangsung instan. Dalam wawancara, Thariq bercerita bahwa sepanjang proses pencarian kerja pada 2025, ia mengirim sekitar 150 lamaran dan mengikuti kurang lebih 20 sesi wawancara. Ia mencoba melamar ke posisi yang masih berhubungan dengan Teknik Kimia maupun ke pekerjaan di bidang teknologi dan AI.
Di beberapa proses, ia menggunakan Capstone Project sebagai bahan untuk menjelaskan kemampuan dan solusi yang bisa ia tawarkan. Portfolio tersebut bukan sekadar pelengkap CV, tetapi menjadi salah satu cara untuk memperlihatkan bagaimana ia menerapkan skill AI pada sebuah project.
Pada akhirnya, Thariq mendapatkan kesempatan dan kini bekerja sebagai AI Engineer di Kaji Capital. Pengalaman ini membuatnya melihat bahwa jalur masuk ke bidang AI bisa datang dari kombinasi antara skill teknologi dan pemahaman domain yang sudah dimiliki sebelumnya.
Angka lamaran dan wawancara tersebut merupakan pengalaman pribadi Thariq, bukan patokan bahwa setiap orang perlu melalui jumlah proses yang sama untuk mendapatkan pekerjaan. Namun, ceritanya menggambarkan bahwa proses transisi karir membutuhkan konsistensi, kesiapan untuk menerima penolakan, dan kemampuan menunjukkan hasil kerja.
Ketika pertama kali tertarik dengan AI, Thariq membayangkan pekerjaan di bidang ini akan banyak berkaitan dengan coding. Setelah mempelajarinya lebih dalam, ia menyadari bahwa AI Engineering tidak hanya tentang menulis kode atau membuat model. AI juga merupakan alat yang bisa digunakan untuk memperkuat solusi di berbagai bidang.
Menurut Thariq, pemahaman terhadap suatu industri tetap punya peran penting. AI bisa menjadi value add ketika diterapkan untuk menjawab kebutuhan spesifik, misalnya di bidang Teknik Kimia, keuangan, maupun oil and gas. Artinya, AI Engineer perlu memahami teknologi yang digunakan sekaligus konteks masalah yang ingin diselesaikan.
Perubahan cara pandang ini juga membuat Thariq merasa punya perspektif yang lebih luas. Jika sebelumnya ia lebih banyak melihat masalah dari sudut pandang Teknik Bioproses, kini ia mulai terbiasa mempertimbangkan konteks bisnis dan bidang lain ketika memikirkan penerapan AI.
Bagi Thariq, seseorang yang tidak berasal dari jurusan IT tidak perlu langsung merasa minder atau menganggap dirinya harus memulai semuanya dari nol. Latar belakang pendidikan atau pengalaman kerja sebelumnya tetap bisa menjadi bekal.
Beberapa hal yang bisa dipetik dari perjalanannya:

Perjalanan Thariq memperlihatkan bahwa berpindah ke bidang teknologi tidak selalu berarti meninggalkan seluruh pengalaman sebelumnya. Latar belakang Teknik Bioproses tetap menjadi bagian dari cara ia memahami dunia, sementara skill AI membuka kesempatan untuk mengeksplorasi masalah dari sudut pandang yang lebih luas.
Bagi siapa pun yang tertarik masuk ke bidang ini, langkah awalnya bukan harus langsung menguasai semua teknologi AI. Mulailah dengan memahami fondasi, mengenali jenis masalah yang ingin dipelajari, dan membangun project yang bisa menunjukkan kemampuan secara nyata.
Saat ini, Job Connector AI Engineering Purwadhika memuat pembelajaran mulai dari Python, statistik, SQL, dan fundamental AI, hingga Machine Learning, Deep Learning, NLP dan Large Language Models, Computer Vision, AI Workflow Automation, serta MLOps dan AI Deployment. Program juga mencakup capstone project untuk menerapkan materi yang dipelajari. Detail kurikulum dan informasi program dapat dilihat di Job Connector AI Engineering Purwadhika.

Kisah Thariq bukan berarti perjalanan masuk ke dunia AI selalu mudah atau hasilnya akan sama untuk semua orang. Namun, pengalamannya menunjukkan bahwa latar belakang yang berbeda bukan otomatis menjadi penghalang. Dengan fondasi yang tepat, kemauan belajar, dan portfolio yang relevan, pengalaman dari bidang sebelumnya bisa menjadi bagian dari nilai yang dibawa ke dunia AI.
Bisa. Pengalaman Thariq menunjukkan bahwa latar belakang Teknik Bioproses tidak menutup peluang untuk belajar AI Engineering. Namun, tetap perlu membangun fondasi teknis, berlatih, dan menunjukkan kemampuan lewat project.
Tidak. Coding merupakan salah satu bagian dari pekerjaan, tetapi AI Engineer juga perlu memahami data, model, tools, dan masalah yang ingin diselesaikan. Pemahaman terhadap konteks industri juga bisa membantu menghasilkan solusi yang lebih relevan.
Portfolio membantu menunjukkan penerapan skill secara konkret. Melalui project, calon employer bisa melihat masalah yang dikerjakan, pendekatan yang digunakan, serta bagaimana seseorang mengembangkan solusi. Dalam perjalanan Thariq, Capstone Project menjadi salah satu materi utama untuk pitching kepada calon employer.
Kurikulum program saat ini mencakup Python, statistik, SQL, Machine Learning, Deep Learning, NLP dan LLM, Computer Vision, AI Workflow Automation, serta MLOps dan AI Deployment. Informasi lengkap dapat dilihat di website Purwadhika.
Tidak selalu. Pengetahuan dari bidang sebelumnya bisa menjadi bekal untuk memahami masalah spesifik di industri. Skill AI dapat melengkapi pengetahuan tersebut dan membantu menerapkannya dengan pendekatan baru.
bagikan
ARTIKEL TERKAIT